Anda boleh menganggap sebelah mata UKM. Ekonomi skala kecil yang banyak digeluti oleh masyarakat Indonesia, terutama di desa-desa, itu bahkan jarang mendapat perhatian di kampus-kampus beken fakultas ekonomi tanah air. Dibanding UKM mungkin beda cerita soal ekonomi finance.

Meski secara sosiologis, ekonomi skala kecil ini sangat kita rasakan dan kita bersentuhan langsung: kita berbelanja di pasar, membeli sabun di warung tetangga, makan camilan keripik dari kios teman, nongkrong di warung kopi pinggir jalan, atau beli souvenir untuk pernikahan dari usaha rumahan desa sebelah. Tetapi mengakui bahwa UKM memiliki dampak besar khususnya bagi negara kita memang agak sulit.

Paling banter pengakuan terhadap UKM ini hanya sekadar penopang ekonomi. Sekali lagi, penopang!

Tapi coba anda perhatikan, pada tahun 2008 krisis ekonomi melanda beberapa negara seperti Yunani. Dan mengapa Indonesia tidak mengalami hal yang sama? Salah satu penyebabnya adalah karena pasar domestik yang cukup kuat. Dominasi UKM dalam pasar domestik ini menjadi alasan utama mengapa Indonesia masih sehat di tahun itu. Jika hanya sebagai penopang mestinya Indonesia sudah jatuh pada krisis seperti tahun 1997. Jika siklus krisis ekonomi setiap sepuluh tahun itu benar adanya maka peran UKM tidak bisa lagi dianggap sebelah mata.

Apapun bentuk pengerdilan pada UKM harus menjadi keprihatinan bersama kita sebagai bangsa. Dalam bentuk apapun pengerdilan itu berlangsung harus kita lawan. Sampai hari ini masih sering orang meremehkan UKM di pinggir-pinggir jalan. Sedemikian rupa pengulangan itu terjadi sehingga seolah-olah menjadi kodrati.

Kalangan terpelajar di negara kita bahkan dididik dengan model ekonomi yang kian menjauhkan diri dari ekonomi real. Menjadi pegiat UKM bahkah menjadi momok yang menakutkan. Atau karena….

Terpaksa tidak diterima kerja di perusahaan!

UKM memiliki salah satu kemampuan adaptif yang luar biasa. Dan ini menjadi nilai positif meski jarang yang melihatnya. Dan di dunia ekonomi bebas seperti sekarang ini memang sangat langka.

Salah satu contohnya adalah bagaimana seseorang mampu berbisnis angkringan padahal sebelumnya berprofesi sebagai petani atau supir truk. Dalam ukuran bisnis modern aneh sekali rasanya. Kemampuan teknis semacam itu walau bagaimanapun tetap harus belajar. Dan coba anda lihat sendiri bagaimana dalam bisnis-bisnis umumnya pasti diadakan couching atau pendampingan dari para ahli yang sering -bahkan selalu- dipungkut biaya.

Kemampuan pedagang angkringan itu datang dari pergaulan dengan pedagang lainnya. Dan mereka secara teknis saling membantu baik peralatan gerobak angkringan ataupun soal permodalan hingga menyangkut pola marketing. Intinya, semua datang dari pengalaman.

Jika kita lihat lebih mendalam apa yang dilakukan oleh masyarakat ini memang sangat mandiri. Sepenuhnya mereka upayakan sendiri tanpa menghadirkan peran negara 100%. Permodalan, marketing, skill memasak dan aspek penting lainnya di dapat dari belajar dengan tetangga, teman atau keluarganya.

Apakah kamu berpikir bahwa ekonomi di China selama 3 dekade belakangan ini digerakkan sepenuhnya oleh pabrik? Tidak! Sektor UKM mereka bergerak secara serentak dan dijamin di bawah naungan Negara. Perencanaan dari hulu (seperti permodalan) hingga hilir (mencari pasar) dipastikan sehingga mereka memiliki arah ekonomi yang jelas.

Ekonomi UKM memang selalu melibatkan orang banyak (seluruh masyarakat) karena itu layak disebut sebagai ekonomi kerakyatan. Bahkan konon saat ini Presiden kita adalah mantan pelaku UKM. Kita berharap banyak dari beliau agar mampu melakukan perbaikan untuk UKM.

*Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab tim Kayukerajinan

==========

Pengunjung Lain Juga Membaca Artikel:
—> Memahami Fenomena Game